Sunday, July 13, 2008

Media dan Future Studies: Mengadiluhung Kesepakatan Budaya - Siri 3

Merujuk kepada anggaran taburan tersebut timbul persoalan sejauh mana perusahaan budaya di negara-negara Melayu atau Melayu Serumpun telah memanfaatkan sumber atau reksadana modal insan secara maksimum dinamik dan progresif, tidak berlakunya keciciran dan kebaziran? Telah cukupkah ruang dan peluang buat mereka terlibat dalam perusahaan budaya baik di peringkat lokal dan sudah tentu sejauh mana wibawa sukses di peringkat di peringkat global? Sekira terdapat masalah dalam pemajuan gravitas perusahaan budaya di kalangan mereka harus apakah renstra atau dasar yang boleh dibangunkan agar potensial dan pengaruh perusahaan budaya mengukuh dalam proses pemajuan ekoposial nasional dan serumpun? Bagaimana dengan edifikasi perusahaan budaya Melayu Serumpun? Bagaimana perusahaan budaya diuruskan, baik dalam bentuk perusahaan budaya intangible (budaya maya) maupun tangible (budaya nyata)?

Kasus-kasus ini menggaris bawahi perlunya suatu bentuk perbincangan komprehensif serta dimajukan sebuah tindakan drastik untuk merealisasikan proses dan gerakan persepakatan dan perkongsian perusahaan budaya Melayu Serumpun agar dapat dibangunkan kebijakan dan bentuk aturan mengenai perlindungan, pemeliharaan, pengembangan, dan pemajuan yang selari dengan zaman. Mungkin dari sini persoalan tentang perlu didirikan jambatan kukuh yang menghubungkan dasar dan tindakan seperti isu-isu kependidikan, keusahawanan, dan kepolitikan (Jane Bryan, 2000: 1391-1408) dapat dijayakan sekali gus akan menjadi lebuhraya besar yang membolehkan seluruh sumber perusahaan budaya itu dapat dimanfaatkan dan dimajukan bagi membolehkan potensi dan motivasi, kewibawaan dan nilai yang ada pada budaya itu dapat dikembangkan kepada keuntungan ekoposial yang memperkukuhkan tamadun Melayu

Serumpun. Mungkin, dalam waktu yang terdekat renstra yang perlu diasakan segera ialah membina persepakatan dan perkongsian pendidikan budaya di mana berlakunya kerjasama dalam kurikulum, latihan dan pengembangan di peringkat pengajian tinggi seperti di institut kesenian, atau di universiti-universiti yang melahirkan ribuan mahasiswa dalam bidang media dan budaya saban tahun. Perlu diasaskan sistem pertukaran pelajar dan pengajar, serta kesepakatan dalam latihan dan amalan praktikal, perkongsian dana dan sumber budaya, termasuk profesionalisme. Juga dibuka ruang- ruang operasional yang membolehkan perusahaan budaya dikembangkan secara bersama. Dalam persaingan global, sumber profesional yang akan memajukan perusahaan budaya sekali gus akan mengukuhkan tamadun budaya Melayu Serumpun itu hendaklah mempunyai ruang untuk berkembang di peringkat yang lebih jauh, dan bersedia untuk bersaing dengan tekanan antarabangsa, dan ini dapat direalisasikan melalui penggabungan kepakaran, kebijakan dan peranan di kalangan pengusaha Melayu Serumpun. Proses penggabungan peranan dan fungsi, dinamika dan tindakan dalam kependidikan akan membuka pengaruh yang akan mengukuhkan budaya dalam perusahaan budaya yang lebih kuat.


Pasaran perusahaan budaya di rantau Melayu Serumpun sangat luas, dan hanya dalam anggaran 11.6 peratus dimajukan dengan sektor-sektor budaya nyata menguasai hampir 9 peratus darinya dan cuma 2.6 peratus lagi adalah perusahaan budaya moden seperti filem, televisyen, interaktif digital seni atau media baru dan muzik, yang selebihnya belum diteroka. Ini menempatkan perusahaan budaya masih lemah dan 88.4 peratus lagi ruang pasaran belum dimajukan. Potensi yang sebesar ini sudah pasti tidak dapat dilaksanakan hanya dengan bertindak secara nasionalisme lokal sebaliknya amat diperlukan suatu kerjasama pembangunan ekonomi perusahaan budaya secara bersama.

Renstra drastik dalam meningkatkan pertumbuhan potensi perusahaan media di rantau Melayu Serumpun, termasuk di peringkat nasionalisme lokal ialah dengan mengubah polisi pengembangan di peringkat lokal dan nasional, iaitu menawarkan ruang kerjasama dan perkongsian dari aspek sumber, dana dan pengurusan yang membolehkan perusahaan budaya berkembang selari dengan keperluan persepakatan dalam memajukan tamadun budaya tersebut secara bersama. Dalam erti yang lain, Melayu Serumpun harus mencipta hegemoninya sendiri dalam perusahaan budaya agar tamadunnya terpelihara dan tidak terbinasa oleh imperialisme budaya asing yang meluru, yang menderas tidak tersekat.

Renstra drastik dalam meningkatkan pertumbuhan potensi perusahaan media di rantau Melayu Serumpun, termasuk di peringkat nasionalisme lokal ialah dengan mengubah polisi pengembangan di peringkat lokal dan nasional, iaitu menawarkan ruang kerjasama dan perkongsian dari aspek sumber, dana dan pengurusan yang membolehkan perusahaan budaya berkembang selari dengan keperluan persepakatan dalam memajukan tamadun budaya tersebut secara bersama. Dalam erti yang lain, Melayu Serumpun harus mencipta hegemoninya sendiri dalam perusahaan budaya agar tamadunnya terpelihara dan tidak terbinasa oleh imperialisme budaya asing yang meluru, yang menderas tidak tersekat.

And so the culture industry, the most rigid of all styles, proves to be the goal of liberalism, which is reproached for its lack of style. Not only do its categories and contents derive from liberalism—domesticated naturalism as well as operetta and revue—but the modern culture monopolies form the economic area in which, together with the corresponding entrepreneurial types, for the time being some part of its sphere of operation survives, despite the process of disintegration elsewhere. It is still possible to make one’s way in entertainment, if one is not too obstinate about one’s own concerns, and proves appropriately pliable. Anyone who resists can only survive by fitting in (Adorno, Horkheimer, 1993: 163)

Persoalan paling besar dalam merealisasikan proses memperkasakan perusahaan budaya Melayu Serumpun ialah politik. Bangsa Melayu yang membentuk rumpun Melayu itu telah terpisah oleh sempadan-sempadan politik, yang membentuk negara, di mana setiap negara mempunyai kepentingan dari aspek dasar dan matlamat ekoposial yang berbeza. Perusahaan budaya tidak akan menghasilkan impak yang besar, sekira krisis dan konflik beza politik tidak diselesaikan untuk membolehkan renstra persepakatan dan perkongsian dasar, operasional dan pembangunan perusahaan budaya tidak diselesaikan (Harold Vogel, 2001: 390-391). Hup! Biarkan politik.

... bersambung

No comments: