Sunday, July 13, 2008

Media dan Future Studies: Mengadiluhung Kesepakatan Budaya - Siri 3

Merujuk kepada anggaran taburan tersebut timbul persoalan sejauh mana perusahaan budaya di negara-negara Melayu atau Melayu Serumpun telah memanfaatkan sumber atau reksadana modal insan secara maksimum dinamik dan progresif, tidak berlakunya keciciran dan kebaziran? Telah cukupkah ruang dan peluang buat mereka terlibat dalam perusahaan budaya baik di peringkat lokal dan sudah tentu sejauh mana wibawa sukses di peringkat di peringkat global? Sekira terdapat masalah dalam pemajuan gravitas perusahaan budaya di kalangan mereka harus apakah renstra atau dasar yang boleh dibangunkan agar potensial dan pengaruh perusahaan budaya mengukuh dalam proses pemajuan ekoposial nasional dan serumpun? Bagaimana dengan edifikasi perusahaan budaya Melayu Serumpun? Bagaimana perusahaan budaya diuruskan, baik dalam bentuk perusahaan budaya intangible (budaya maya) maupun tangible (budaya nyata)?

Kasus-kasus ini menggaris bawahi perlunya suatu bentuk perbincangan komprehensif serta dimajukan sebuah tindakan drastik untuk merealisasikan proses dan gerakan persepakatan dan perkongsian perusahaan budaya Melayu Serumpun agar dapat dibangunkan kebijakan dan bentuk aturan mengenai perlindungan, pemeliharaan, pengembangan, dan pemajuan yang selari dengan zaman. Mungkin dari sini persoalan tentang perlu didirikan jambatan kukuh yang menghubungkan dasar dan tindakan seperti isu-isu kependidikan, keusahawanan, dan kepolitikan (Jane Bryan, 2000: 1391-1408) dapat dijayakan sekali gus akan menjadi lebuhraya besar yang membolehkan seluruh sumber perusahaan budaya itu dapat dimanfaatkan dan dimajukan bagi membolehkan potensi dan motivasi, kewibawaan dan nilai yang ada pada budaya itu dapat dikembangkan kepada keuntungan ekoposial yang memperkukuhkan tamadun Melayu

Serumpun. Mungkin, dalam waktu yang terdekat renstra yang perlu diasakan segera ialah membina persepakatan dan perkongsian pendidikan budaya di mana berlakunya kerjasama dalam kurikulum, latihan dan pengembangan di peringkat pengajian tinggi seperti di institut kesenian, atau di universiti-universiti yang melahirkan ribuan mahasiswa dalam bidang media dan budaya saban tahun. Perlu diasaskan sistem pertukaran pelajar dan pengajar, serta kesepakatan dalam latihan dan amalan praktikal, perkongsian dana dan sumber budaya, termasuk profesionalisme. Juga dibuka ruang- ruang operasional yang membolehkan perusahaan budaya dikembangkan secara bersama. Dalam persaingan global, sumber profesional yang akan memajukan perusahaan budaya sekali gus akan mengukuhkan tamadun budaya Melayu Serumpun itu hendaklah mempunyai ruang untuk berkembang di peringkat yang lebih jauh, dan bersedia untuk bersaing dengan tekanan antarabangsa, dan ini dapat direalisasikan melalui penggabungan kepakaran, kebijakan dan peranan di kalangan pengusaha Melayu Serumpun. Proses penggabungan peranan dan fungsi, dinamika dan tindakan dalam kependidikan akan membuka pengaruh yang akan mengukuhkan budaya dalam perusahaan budaya yang lebih kuat.


Pasaran perusahaan budaya di rantau Melayu Serumpun sangat luas, dan hanya dalam anggaran 11.6 peratus dimajukan dengan sektor-sektor budaya nyata menguasai hampir 9 peratus darinya dan cuma 2.6 peratus lagi adalah perusahaan budaya moden seperti filem, televisyen, interaktif digital seni atau media baru dan muzik, yang selebihnya belum diteroka. Ini menempatkan perusahaan budaya masih lemah dan 88.4 peratus lagi ruang pasaran belum dimajukan. Potensi yang sebesar ini sudah pasti tidak dapat dilaksanakan hanya dengan bertindak secara nasionalisme lokal sebaliknya amat diperlukan suatu kerjasama pembangunan ekonomi perusahaan budaya secara bersama.

Renstra drastik dalam meningkatkan pertumbuhan potensi perusahaan media di rantau Melayu Serumpun, termasuk di peringkat nasionalisme lokal ialah dengan mengubah polisi pengembangan di peringkat lokal dan nasional, iaitu menawarkan ruang kerjasama dan perkongsian dari aspek sumber, dana dan pengurusan yang membolehkan perusahaan budaya berkembang selari dengan keperluan persepakatan dalam memajukan tamadun budaya tersebut secara bersama. Dalam erti yang lain, Melayu Serumpun harus mencipta hegemoninya sendiri dalam perusahaan budaya agar tamadunnya terpelihara dan tidak terbinasa oleh imperialisme budaya asing yang meluru, yang menderas tidak tersekat.

Renstra drastik dalam meningkatkan pertumbuhan potensi perusahaan media di rantau Melayu Serumpun, termasuk di peringkat nasionalisme lokal ialah dengan mengubah polisi pengembangan di peringkat lokal dan nasional, iaitu menawarkan ruang kerjasama dan perkongsian dari aspek sumber, dana dan pengurusan yang membolehkan perusahaan budaya berkembang selari dengan keperluan persepakatan dalam memajukan tamadun budaya tersebut secara bersama. Dalam erti yang lain, Melayu Serumpun harus mencipta hegemoninya sendiri dalam perusahaan budaya agar tamadunnya terpelihara dan tidak terbinasa oleh imperialisme budaya asing yang meluru, yang menderas tidak tersekat.

And so the culture industry, the most rigid of all styles, proves to be the goal of liberalism, which is reproached for its lack of style. Not only do its categories and contents derive from liberalism—domesticated naturalism as well as operetta and revue—but the modern culture monopolies form the economic area in which, together with the corresponding entrepreneurial types, for the time being some part of its sphere of operation survives, despite the process of disintegration elsewhere. It is still possible to make one’s way in entertainment, if one is not too obstinate about one’s own concerns, and proves appropriately pliable. Anyone who resists can only survive by fitting in (Adorno, Horkheimer, 1993: 163)

Persoalan paling besar dalam merealisasikan proses memperkasakan perusahaan budaya Melayu Serumpun ialah politik. Bangsa Melayu yang membentuk rumpun Melayu itu telah terpisah oleh sempadan-sempadan politik, yang membentuk negara, di mana setiap negara mempunyai kepentingan dari aspek dasar dan matlamat ekoposial yang berbeza. Perusahaan budaya tidak akan menghasilkan impak yang besar, sekira krisis dan konflik beza politik tidak diselesaikan untuk membolehkan renstra persepakatan dan perkongsian dasar, operasional dan pembangunan perusahaan budaya tidak diselesaikan (Harold Vogel, 2001: 390-391). Hup! Biarkan politik.

... bersambung

Saturday, July 12, 2008

Media dan Future Studies: Mengadiluhung Kesepakatan Perusahaan Budaya - Siri 2

02. Jika Tidak Dipecahkan Ruyung, Manakan Dapat Sagunya

Tamadun Melayu Serumpun harus menyesuaikan mayatilik ekoposialnya untuk seimbang dan selari, secepat pantas memasuki paradigma baru budaya di mana dunia sedang bergerak ke zaman menyempurnakan modernitas selepas melalui semua perkembangan di sepanjang abad-abad modernisme dan pasca modernisme. Munculnya zaman Ekonomi Baru (New Economi) yang bertunjangkan saitek informasi (information age) selepas kecemerlangan yang ditunjukkan oleh masyarakat pertanian dan perindustrian (Gernot Böhme, 2001: 67) sebelumnya, telah membawa dunia ke zaman ekonomi estetik yang dipacu oleh perusahaan budaya (Pierre Bourdieu, 1990: 161). Dari Rosseau dengan romantisme, dari Carlyle, Ruskin, Arnold, Wagner dan Nietzsche serta kritikan-kritikan normatif yang lain mendapati budaya berasaskan pasaran adalah simptomik peradaban dekaden, sekadar dialektika pencerahan, atau tentang kemanusiaan satu dimensi yang membawa kepada berakhirnya sejarah, seni, subjek dan pengalaman. Kesempurnaan modernisasi bukannya apocalyptic tetapi entropic: pertembungan di antara utopia dan dystopia (Julian Barnes, 1998: 87).

Perusahaan budaya akan muncul sebagai gelombang kebangkitan nilai, norma, dan sistem baru terutama dalam melengkapkan keperluan, kemestian dan perubahan-perubahan bentuk dan kandungan yang dibawa dalam zaman informasi dan media. Heidegger menyebutnya sebagai “the age of World Picture” (1938) yang mengandungi lima komponen modernitas yang berperanan dalam membentuk corak penghidupan dan mengawal situasi fenomena ekoposial iaitu: 1) sains, 2) teknologi, 3) pengalaman seni dan estetika, 4) budaya direalisasikan sebagai nilai tertinggi, atau disebut politik budaya, dan 5) de-divinisasi dunia, yang digaris bawahi oleh pengaruh dan penguasaan agama.

Pengaruh pasaran fizikal akan mengecil, dan bangkit pasaran estetik dengan pengaruh dan penguasaan saitek sibermedia yang telah mentransformasikan realiti virtual kepada realiti nyata, dengan segala bentuk industri fizikal termasuk cara hidup yang selama ini distrukturkan oleh nasionalisme lokal berubah sepenuhnya ke dalam suatu persaingan perusahaan budaya yang sangat-sangat terbuka. Masyarakat yang tidak bersedia membina renstra dalam menantang perubahan struktur ekoposial dan masih bergantung kepada kepercayaan pemeliharaan nilai, sistem, dan amalan kepada tradisional akan lemah dan terhapus, dan masyarakat yang menguatkan diri dengan menyertakan diri dalam pertempuran perusahaan budaya secara bersatu dalam sikap nasionalisme global dan kulturalisme global (Walter Benjamin, 1991: 79-111) akan mencapai kemajuan dan kesejahteraan ekoposial yang lebih sempurna. Dalam abad-abad multimedia yang seperti ini tamadun Melayu Serumpun akan mengecil dengan dahsyatnya seandai sebuah gerakan menyatupadukan sumber, peranan pembentukan dan pembangunan nilai, sistem dan kandungan dari semua aspek ekoposial seperti pendidikan, perekonomian dan pembangunan perusahaan media, tidak direncanakan segera.

The culture industry is the combined force of the mass media, news/information and entertainment as well as sports, fashion & cosmetics, architecture, design and those other creative practices that help constitute popular experience – what can be referred to as everyday life. Since the post- WWII period, American cultural icons like Coca-Cola and the Hollywood movie have served as the lingua franca of modernization – for both its own citizenry as well as for people throughout the world. With the end of the Cold War, media conglomerates have consolidated a unified global structure of cultural life… Globalization of the culture industry is orchestrated through highly integrated media conglomerates that control the lion’s share of the popular entertainment and information marketplace (David Rosen, 2005: 3)

Veronis Shuler Stevenson (2003: 44-47, 75) menyatakan setidaknya dalam persaingan perusahaan budaya dalam era multimedia digital serta informasi sekarang ini empat media popular menguasai pasaran dunia – wayang gambar (filem), muzik, permainan video dan buku-buku pengguna – menakluki pasaran domestik Amerika Syarikat dengan anggaran US57.3 bilion pada tahun 2002, dengan hampir US10 bilion pendapatan independen hanya dari empat pasaran ini. Persaingan dan perebutan dalam perusahaan budaya memuncak sebanyak 15 hingga 17 peratus dari tahun 2002 hingga 2003 dan akan meningkat ke tahap melebihi 35 peratus pada tahun-tahun berikutnya. Perusahaan budaya akan memberi pulangan ekonomi yang terbesar menjelang 2010 dengan hampir 40 peratus pasaran ekonomi domestik Amerika Syarikat adalah datang dari perusahaan budaya khususnya keempat-empat industri media budaya tadi.

Statistik pasaran global perusahaan budaya, yang merujuk kepada industri filem dan hiburan dibawa untuk berkomparatif dengan potensinya dalam benua Melayu Serumpun, iaitu Malaysia, Indonesia dan juga Brunei, Selatan Thailand serta masyarakat Melayu antarabangsa yang bertebaran di mana sahaja misalnya Afrika Selatan, Australia, Eropah dan Asia Barat. Persaingan dalam industri budaya yang sangat ketat sudah tentu tidak
akan punya upaya buat perusahaan media dan perusahaan budaya Melayu untuk bersaing dengan lebih adil dengan masih mengamalkan cara nasionalisme lokal, kerana batasan-batasan dari aspek modal kewangan mahupun modal insan, juga pengetahuan dan pengalaman serta kepercayaan untuk masyarakat antarabangsa menerima telah mencapai merit dan standard antarabangsa. Justeru itulah potensi yang ada ini perlu diperkasakan, dan caranya ialah dengan mewujudkan persepakatan dan perkongsian cara, renstra, dasar dan implimentasi pembangunan, yang sekira produk-produk budaya tadi sukar menembusi imperialisme perusahaan budaya dari Amerika Syarikat, Eropah, Jepun dan lain-lain setidaknya pasaran domestik Melayu Serumpun telah cukup untuk menampung keperluan pasaran perusahaan budaya sendiri. Dengan kata lain Melayu Serumpun harus mendokong globalisasi dalaman yang tidak terlalu ekstrem kepada politik sempadan sebaliknya mengukuhkan ekoposial budaya. Cara untuk bangkit dalam pertembungan berat sebelah akibat globalisasi yang mengheret hegemoni dan imperialisme ekoposial oleh negara-negara berkuasa besar seperti Amerika Syarikat, Eropah, China dan Jepun ialah dengan membentuk kekuatan serumpun berasaskan budaya, dan kekuatan ini hendaklah dijenterakan oleh persepakatan, persefahaman dan perkongsian kekayaan sumber dan kebijakan renstra, dasar dan gerakan politik yang antaranya ialah membina ketumbukan perusahaan budaya secara kolektif (Ellen Wood Meiksins, 1995: 67-69).

Pemetaan anggaran taburan modal insan atau sumber daya profesional dalam perusahaan budaya di Malaysia,Indonesia termasuk Brunei mengikut kajian MANGGIS menjelaskan bagaimana luasnya potensi perkembangan kerjaya, profesionalisme dalam semua bidang dan di semua peringkat, serta lambungan ekonomi yang mungkin akan mewujudkan kumpulan konglomerat peringkat daerah, nasional khususnya di peringkat serumpun yang akan mengembangkan peluang pekerjaan di kalangan profesional bidang media dan budaya di tahap tertinggi, yang dianggarkan iaitu 40 peratus dari seluruh komposisi peluang pekerjaan di peringkat nasional. Namun taburan yang luas ini akan mengecil ke tahap 10 peratus jika sekira proses pemajuan perusahaan budaya tadi berlaku hanya dalam kondisi nasionalisme lokal atau pasaran daerah dan nasional tidak bergabung secara kukuh di peringkat serumpun kerana tekanan globalisasi akan menyebabkan berlakunya migrasi tenaga mahir keluar, dan juga masuk sekaligus merampas pasaran kerjaya tempatan (Paul Gilroy, 1997; 120-123, 67) dan serumpun. Pemikiran lokal hendaklah digantikan dengan pemikiran serumpun (Heinz Steinert, 2003: 86) kerana bentuk, sistem dan cara menguruskan masadepan bangsa Melayu adalah bergantung di atas kebijakan renstra mendepani globalisasi, dan cara terbijak ialah membentuk kesatuan berasaskan budaya dan persefahaman ekoposial.

... bersambung

Media dan Future Studies: Mengadiluhung Kesepakatan Perusahaan Budaya - Siri 1

01. Rumpun Bagai Serai, Selubang Bagai Tebu

Abad ini adalah abad yang paling mencabar buat Tamadun Melayu Serumpun setelah sekian lama terpecah belah, punah ranah dan bertebaran membawa haluan masing-masing kesan daripada penjajahan, untuk kembali bersatu teguh membina kekuatan ekonomi, politik dan sosial (ekoposial) secara bersama; yang berat sama dipikul, yang ringan sama dijinjing; hati gajah sama dilapah, hati kuman sama dicecah, dalam keadaan dunia digodam globalisasi di mana kepercayaan terhadap sempadan-sempadan baik geografi, geo-ekoposial dan budaya sudah tidak dapat diterima. Dunia sedang dipaksa untuk bergerak ke zaman langit terbuka sepenuhnya (Frank Fûredi, 1992: 98), dan segala kebudayaan hidup yang sekian lama membentuk peradaban-peradaban pada setiap bangsa termasuk Tamadun Melayu Serumpun sedang dicabar dan tercabar, ditentang dan terkepung untuk berubah selari dengan perubahan yang meletus dalam globalisasi terutama dalam menyediakan diri menerima kehadiran budaya-budaya baru, yang datang dari segenap penjuru, dan tantangan ini lebih mendahsyat datangnya dari gelombang kekuasaan perusahaan media (Ernesto Laclau, Chantal Mouffe, 1985: 91).

Perusahaan media telah menjangukasakan budaya sebagai komoditi (Adorno, Horkheimer, 1947) dan membentuk perusahaan budaya (Kulturindustrie) yang akan menguasai hampir keseluruhan pasaran ekoposial dunia menjelang Abad 23. Melalui pengaruh media terutama dengan kepesatan pemajuan future media seperti televisyen digital, pawagam (panggung wayang gambar) digital yang bersifat mudah alih dan kepelbagaian gunaan (multifuture purpose digital media) serta pembaruan fungsi internet dengan kemunculan sistem-sistem yang lebih futuristik akan meletakkan beberapa bentuk media seperti televisyen dan filem menjadi lebih dinamik dengan tawaran kedahsyatan persembahan seni melalui saitek (sains dan teknologi) sehingga melampaui kebolehan realiti, dan akan membentuk cara hidup dan budaya penghidupan yang jauh meninggalkan sejarah, tradisi dan peradaban masa lalu (Arjun Appadurai, 1990: 297).

Media is at the very heart of society and business. As the economy inexorably shifts from the tangible to the intangible, media in its many forms is accounting for an ever-increasing proportion of value created. Over the last decade we have seen many new media emerge, many new ways not just to disseminate content in all its forms, but also to interact, invite contribution, build relationships, and engage in conversations. What was a relatively static landscape for many years has exploded into an extraordinary mosaic of elements old and new, juxtaposing reality TV, blogs, search engines, interactive cable TV, location mash-ups, iPods, podcasts, digital TV recorders, personalized adserving, online social networks, free newspapers, satellite radio, photo sharing, and far more. Everyone has a direct interest in how this landscape evolves and mutates, from established media, entertainment, telecoms, and consumer electronics companies, to every business that depends on getting messages to its potential customers, through to individuals, governments, and the emerging multitudes of media creators. All have a strong stake in understanding the future of media, yet the richness and rapidity of developments makes it challenging to perceive the shape and full import of what is being born today (Ross Dawson, 2006: 2).

Manusia pada saat itu telah dibawa ke masadepan, dan media tidak lagi sekadar mencetuskan perang informasi sebaliknya mewujudkan pertempuran perusahaan budaya kerana persaingan pasaran ekoposial pada masa itu adalah sepenuhnya ditentukan oleh perusahaan budaya melalui media, seperti filem dan televisyen (Mike Featherstone, 1990: 76-79). Masyarakat yang tidak bersedia untuk mengukuhkan diri dari sekarang dalam membangunkan kebolehan perusahaan budaya mereka akan tersingkir dari pembentukan dunia masadepan (Wolfgang Bonns, Axel Honneth: 112-115). Maka demikianlah setidaknya kita diberitahu agar Melayu Serumpun kembali mencantumkan diri membentuk kesatuan dan kesepakatan kukuh dalam membangunkan ekoposial kerana dengan kebersatuan yang kukuh sahaja umat Melayu akan tidak terkalah dan terhapus pada zaman pertempuran perusahaan budaya terjadi kerana pada waktu itu Melayu Serumpun telah pun bersedia dengan perusahaan budayanya yang juga hebat, perkasa dan stabil malah menjadi perusahaan budaya yang kuat pengaruhnya dalam persaingan perusahaan budaya dunia.

Horkheimer and Adorno use the term in two different senses:

In the first instance, ‘culture industry’ refers to commodity production as the principle of a specific form of cultural production. ‘Commodity-form culture’ stands in contrast to the bourgeois idea of art as something that is exempt from all practical interest; that is self-contained; that is ‘useless’ for any instrumental purpose; that forms a universe for itself; and that represents ‘l’art pour l’art’, as some writers and artists in the nineteenth century proclaimed.

• Secondly, ‘the culture industry’ denotes a specific branch of production, comprising film studios, recording facilities, CD factories, giant printing machines disgorging daily papers at an unbelievable rate (an image that crops up in countless movies), radio and TV stations with global coverage, and even the Times Square conglomerate of theatres, clubs and stage shows. ‘The culture industry’ makes us think of factories for cultural goods. (Heinz Steinert, 2003: 9)


Pemikiran mementingkan sempadan geo-ekoposial yang bersifat nasionalisme lokal sudah tidak boleh dipakai sebaliknya seluruh umat Melayu hendaklah mempercayai abad-abad masadepan dikawal dan ditentukan oleh geo-ekoposial yang bersifat nasionalisme global, atau yang digelar oleh kita sebagai Melayu Serumpun. Melayu Serumpun adalah dengan sendiri memancarkan pengertian ‘bersatu teguh, bercerai roboh’ dalam semua aspek khususnya dalam memacu prakarsa-prakarsa mengukuhkan persepakatan dan perkongsian renstra, dasar dan implimentasi, projek pembangunan dan agihan kepentingan agar dengannya akan menguatkan upadaya Melayu Serumpun dalam berdepan dengan persaingan global. Perusahaan budaya akan menjadi kerakap tumbuh di atas batu, hidup enggan mati tak mau sekira hanya bergantung kepada nasionalime lokal kerana maksud Melayu Serumpun itu adalah tamadun seluruh bangsa Melayu yang bertebaran di mana sahaja, dan yang paling besar di antara Malaysia dan Indonesia. Wajarlah mulai hari ini pemikiran nasionalisme global dibentuk dalam setiap renstra pembangunan ekoposial bangsa Melayu seperti yang diperlukan dalam menjayakan perusahaan budaya kerana pasaran perusahaan budaya Melayu itu akan lebih meluas dan berkembang di peringkat serumpun berbanding lokal sekali gus akan membentuk pengaruh yang lebih kukuh dan kuat dalam berdepan dengan persaingan sejagat.

Baik di Kuala Lumpur mahupun di Jakarta, di Kota Melaka maupun di Pekan Baru, Riau yang pasti masyarakat sedang berubah, di mana pusat-pusat peradaban dan kebudayaan bukan lagi di pusat-pusat latihan dan institusi pengajian, atau di panggung-panggung seni tetapi di kompleks beli belah, di kelab-kelab sosial, hatta di kafe semasa meneguk secawan cappuchino di mana berbagai barang, dari makanan hinggalah ke gajet-gajet, dan sudah tentu produk budaya seperti poster, cakera padat CD maupun DVD, MP3 seperti iPod, dan filem-filem nyata mendominasi bahkan nyaris menghapus adanya karya lokal. Produk budaya lokal tidak mampu bersaing dengan produk budaya asing yang datang dari pelbagai negara kecuali perusahaan budaya lokal itu dikembangkan menjadi lebih besar (Douglas Kellner, 1998: 67-69), dan sudah tentu untungnya produk perusahaan budaya masyarakat Melayu kerana telah pun mempunyai lingkungan budaya serumpun yang kukuh cuma perlu menyelesaikan krisis dan konflik kepentingan ekoposial nasionalisme lokal sahaja. Permintaan terhadap produk budaya oleh industri media begitu mendadak dengan anggaran sebanyak 2.6 juta kandungan produk budaya diperlukan bagi tahun 2006 hingga 2009, dan akan meningkat sebanyak 60 peratus selepas 2009, dengan perkembangan perusahaan budaya sedunia mencecah ke tahap 70 peratus dari seluruh keperluan pasaran ekonomi dunia (The Benton Foundation, 1998: 10-16). Menjelang pertengahan tahun 2010 dianggarkan hampir 30 bilion perolehan jual beli produk media di Amerika Syarikat, Eropah, dan sekitar 19 bilion menjelang 2012 di China, Jepun dan Korea manakala di rantau Asia Tenggara akan mencapai pendapatan mencecah 9.76 bilion dalam tahun yang sama (Global Entertainment and Media Outlook, 2005-2009, 2005: 79-190). Peningkatan mendadak ini hasil daripada perkembangan pesat industri televisyen dan filem digital sekali gus menggaris bawahi perlunya bagi perusahaan budaya di Malaysia dan Indonesia berubah dari sikap nasionalisme lokal kepada menjayakan gerakan mengadiluhung persepakatan dan perkongsian perusahaan budaya agar dengan cara itu akan mengembangkan lagi potensi pasaran produk budaya di dalam lingkaran geo-ekoposial Melayu Serumpun.

In our drafts we spoke of “mass culture”. We replaced that expression with “culture industry” in order to exclude from the outset the interpretation agreeable to its advocates: that it is a matter of something like a culture that arises spontaneously from the masses themselves, the contemporary form of popular art. From the latter the culture industry must be distinguished in the extreme. (Adorno, 1991: 85)


Komparatif - potensi hasil persepakatan dalam perusahaan budaya, misalnya di antara Riau dan Melaka sudah pun cukup untuk membuka peluang pekerjaan kepada hampir 20 ribu orang, dan mengikut kajian MANGGIS (Permuafakatan Gerakan Generasi Baru Malaysia) yang dibuat pada tahun 2006 mendapati sekira terjadi perkongsian itu membolehkan pengluasan pasaran media budaya ke tahap 60 peratus dengan anggaran perolehan sebanyak RM1.6 bilion, dan akan mengembangkan potensi-potensi kependidikan perusahaan budaya di kedua-dua negara ke tahap paling tinggi dengan kadar graduan dalam bidang perfileman, penyiaran, media digital, kreatif dan artistik, serta komunikasi bandingan budaya meningkat 300 peratus, dan akan melahirkan pemacu-pemacu baru industri hiburan seperti penyanyi, pelakon, sutradara, penata muzik, penata suntingan, penata sinematografi, penerbit serta pengurus produksi berpengetahuan tinggi dan berkelulusan tinggi sehingga ke peringkat Doktor Falsafah. Mahsul dari gerakan persepakatan dan perkongsian perusahaan budaya ini akan turut mengembangkan pengaruh budaya lokal ke dalam masyarakat dan mengukuhkan kebudayaan Melayu Serumpun melalui produk-produk budaya yang dipasarkan ke dalam industri media. MANGGIS juga dalam kajiannya mendapati sekira terbentuk kerjasama kukuh di antara Melayu Serumpun di dalam perusahaan budaya maka potensi perkembangan perusahaan filem akan meningkat hampir 60 peratus dengan anggaran jumlah kutipan setahun adalah melebihi RM170 juta. Krisis-krisis yang muncul akibat perpecahan geo-ekoposial dan budaya Melayu Serumpun akan dapat diselesaikan sekali gus akan membentuk Tamadun Melayu Serumpun yang lebih kuat, kukuh dan berkembang seiring dengan perkembangan pengaruh Amerika dan Eropah, juga Jepun, India dan China. Wajarlah untuk Melayu Serumpun memberi perhatian serius terhadap keperluan untuk membentuk dan membina perpaduan dalam menguruskan perusahaan budaya melalui menyatupadukan bentuk renstra, dasar dan implimentasi pembangunan, serta pengukuhan kependidikan budaya dalam menjamin perusahaan budaya Melayu Serumpun dapat bersaing dengan imperialisasi budaya dari luar.

Nota: Rencana Ini Telah Diterbitkan
Sebarang Salinan Semula Tanpa Izin Akan Didakwa.

Salam

Oghé Baruh;

adalah naskah yang terbit dari kepayahan hidup orang-orang kelilingan akibat dari kehadiran kawanan katastrofi yang menyerang ekoposial masyarakat sehingga musnahnya harapan keberdayaan bagi sebuah penghidupan yang agung pada masa hadapan.

Guano! Lalu dari satu ghoyat ke ghoyat lainnya, bersilih ganti dari satu bari ke bari lainnya, tidak ada selain menuntut kedudukan sikap, dan peranan peduli yang memungkinkan ada ombak-ombak baik membawa butir-butir mutiara yang dapat mencahayakan meski tidak terang benderang namun cukup sekadar untuk menyuluhi tapak-tapak kecil, yang barangkali di hari esok menjadi jejak besar nan mampu membangunkan jiwa dan ruh yang baru, lalu penghidupan baru.

Kerana orang-orang Melayu itu;

Yang kurik itu kundi,
Yang merah itu saga;
Yang molek itu budi,
Yang indah itu bahasa.